Literasi Membaca Indonesia Masuk Jajaran Terbawah Dunia Versi PISA

image 4 NarcSp

Ringkasan: Skor literasi membaca Indonesia di PISA 2022 tercatat 359 poin — turun 12 poin dari 2018 dan merupakan skor terendah sejak Indonesia pertama kali ikut PISA tahun 2000. Meski peringkat Indonesia naik 5 posisi dibanding 2018 karena banyak negara lain juga anjlok, posisi Indonesia tetap berada di kelompok bawah dari sekitar 80 negara peserta.

Apa itu Skor Literasi Membaca PISA Indonesia?

Siswa Indonesia mengikuti asesmen literasi membaca di sekolah

Skor literasi membaca PISA Indonesia adalah nilai kemampuan membaca siswa usia 15 tahun yang diukur OECD setiap tiga tahun. Pada siklus 2022, skor Indonesia mencapai 359 poin dari skala PISA, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang berada di kisaran 476 poin — selisih sekitar 117 poin.

Mengapa Skor Literasi Membaca Ini Penting Dibahas di 2026?

Pelajar Indonesia berdiskusi setelah membaca buku untuk meningkatkan literasi

Angka 359 bukan sekadar statistik. Skor ini adalah yang terendah dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di PISA sejak 2000, lebih rendah dari skor tahun 2018 (371 poin) maupun 2015 (397 poin). Tren tiga siklus berturut-turut ini menunjukkan penurunan yang konsisten, bukan fluktuasi sesaat.

Yang membuat situasi ini rumit untuk dibaca hitam-putih: secara peringkat, posisi Indonesia justru naik 5 tempat dibanding 2018. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, menjelaskan bahwa hasil PISA 2022 mencerminkan kondisi pembelajaran dua tahun sebelumnya, saat sekolah masih tertutup akibat pandemi. Kenaikan peringkat terjadi karena skor rata-rata dunia turun lebih dalam (18 poin) dibanding penurunan skor Indonesia (12 poin) — bukan karena kemampuan membaca siswa Indonesia membaik secara absolut.

Berbagai media menempatkan posisi Indonesia di kisaran peringkat 68-70 dari 80-81 negara peserta PISA 2022, tergantung metode perhitungan yang dipakai. Artinya, Indonesia konsisten berada di sepertiga bawah dari seluruh negara peserta, dengan hanya belasan negara yang skornya lebih rendah. Untuk sebuah negara dengan populasi pelajar sebesar Indonesia, posisi ini punya implikasi jangka panjang pada daya saing tenaga kerja dan kualitas partisipasi warga dalam ekonomi berbasis pengetahuan.

Data Resmi: Tren Skor Literasi Membaca Indonesia dari Waktu ke Waktu

Grafik tren skor literasi membaca Indonesia PISA 2015 2018 2022

Berikut rangkuman skor literasi membaca Indonesia di tiga siklus PISA terakhir, disusun dari data resmi OECD yang dirilis Kemendikbudristek.

Tahun PISASkor Literasi MembacaPerubahanSumber
2015397OECD / Kemendikbudristek
2018371-26 poinOECD / Kemendikbudristek
2022359-12 poinOECD / Kemendikbudristek

Pola yang terlihat dari tabel ini adalah penurunan berkelanjutan selama tiga siklus, bukan sekadar dampak satu faktor tunggal seperti pandemi. Learning loss akibat penutupan sekolah 2020-2021 memang memperparah tren, tapi tren menurun sendiri sudah dimulai sejak sebelum pandemi — dari 397 di 2015 ke 371 di 2018.

Faktor-Faktor yang Berkontribusi pada Rendahnya Literasi Membaca

Tantangan literasi membaca Indonesia dari akses buku hingga distraksi digital

Berdasarkan penjelasan resmi Kemendikbudristek dan kajian dari berbagai lembaga pendidikan, berikut faktor utama yang berulang kali disebut sebagai penyebab:

  1. Learning loss pandemi Covid-19 — penutupan sekolah dalam waktu panjang membuat banyak siswa kehilangan jam belajar membaca terstruktur.
  2. Akses buku bacaan bermutu yang belum merata — terutama di sekolah dasar dan menengah pertama di luar kota besar.
  3. Minimnya budaya membaca di rumah — literasi keluarga belum menjadi kebiasaan rutin di banyak rumah tangga Indonesia.
  4. Kesenjangan infrastruktur perpustakaan sekolah dan desa — banyak wilayah belum punya layanan perpustakaan yang aktif dan relevan dengan kebutuhan pembaca.
  5. Distraksi konsumsi media digital pendek — pola konsumsi konten cepat di media sosial berkompetisi langsung dengan waktu membaca teks panjang.
  6. Kualitas pengajaran literasi yang belum merata antar-daerah — kesenjangan kompetensi guru dalam mengajarkan strategi membaca pemahaman.
  7. Kurangnya kebiasaan membaca untuk kesenangan (reading for pleasure) — banyak siswa hanya membaca saat diwajibkan tugas sekolah.

Pemerintah, melalui Kemenko PMK, merespons dengan tiga program utama: Program Literasi Keluarga, Program Literasi Satuan Pendidikan, dan Program Literasi Masyarakat melalui penguatan layanan perpustakaan nasional. Salah satu target konkretnya adalah distribusi buku bacaan bermutu ke puluhan ribu SD dan SMP kategori tertentu.

Cara Meningkatkan Literasi Membaca — Langkah Praktis

Keluarga Indonesia membangun kebiasaan membaca bersama di rumah

Perbaikan skor PISA butuh waktu bertahun-tahun karena mengukur kohort siswa usia 15 tahun. Tapi ada langkah konkret yang bisa mulai diterapkan di level keluarga, sekolah, dan komunitas.

  1. Bangun rutinitas membaca 15-20 menit per hari di rumah. Konsistensi harian lebih berpengaruh dibanding sesi membaca panjang yang jarang dilakukan.
  2. Manfaatkan program dan layanan perpustakaan yang sudah tersedia. Perpustakaan desa dan sekolah yang aktif terbukti jadi salah satu kunci Gerakan Literasi Desa yang melibatkan ratusan kabupaten/kota.
  3. Pilih bahan bacaan sesuai minat, bukan hanya buku wajib. Anak dan remaja lebih konsisten membaca ketika topiknya relevan dengan ketertarikan pribadi mereka.
  4. Dorong diskusi setelah membaca, bukan hanya membaca pasif. Bertanya “apa yang paling menarik dari bacaan ini?” melatih pemahaman, bukan sekadar dekode kata.
  5. Gunakan konten edukatif berkualitas sebagai pelengkap, bukan pengganti buku. Podcast literasi dan kanal edukasi bisa memperkuat minat, tapi teks tertulis tetap penting untuk melatih daya fokus membaca panjang.
  6. Libatkan sekolah dalam gerakan literasi masyarakat yang lebih luas — sebagaimana yang diulas dalam pembahasan cara terbukti meningkatkan literasi sosial, penguatan literasi tidak berhenti di ruang kelas saja, tapi perlu ekosistem keluarga dan komunitas yang saling mendukung.

FAQ — Literasi Membaca Indonesia di PISA

Berapa skor literasi membaca Indonesia di PISA 2022?

Skor literasi membaca Indonesia di PISA 2022 adalah 359 poin, turun 12 poin dari 371 poin pada 2018, dan merupakan skor terendah sejak Indonesia mulai ikut PISA tahun 2000.

Apakah peringkat Indonesia di PISA 2022 naik atau turun?

Peringkat Indonesia justru naik sekitar 5 posisi dibanding 2018. Ini terjadi karena skor rata-rata dunia turun lebih dalam (18 poin) dibanding penurunan skor Indonesia (12 poin), bukan karena kemampuan membaca siswa membaik secara absolut.

Mengapa skor PISA Indonesia terus menurun sejak 2015?

Kombinasi beberapa faktor: learning loss pandemi, akses buku bacaan bermutu yang belum merata, minimnya budaya membaca di rumah, kesenjangan kualitas pengajaran literasi antar-daerah, dan distraksi konsumsi konten digital berdurasi pendek.


Ditinjau oleh redaksi NarcSp berdasarkan data resmi OECD dan Kemendikbudristek.

Categories:

Related Posts :-