Ringkasan: Data Kementerian Kesehatan per Juli 2026 menunjukkan risiko gangguan kesehatan jiwa pada anak usia sekolah dan remaja 1,6 kali lebih tinggi dibanding kelompok dewasa dan lansia. Angka percobaan bunuh diri pada pelajar juga naik 2,7 kali lipat dalam delapan tahun terakhir.
Apa Arti “Risiko Gangguan Jiwa Anak 1,6 Kali Lebih Tinggi”?
Angka ini merujuk pada temuan Kemenkes lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Anak usia sekolah dan remaja di Indonesia berisiko 1,6 kali lebih besar mengalami gangguan kesehatan jiwa dibanding kelompok dewasa dan lanjut usia. Temuan ini diumumkan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pada 4 September 2026.
Mengapa Angka Ini Penting di 2026?

Dari sekitar 33 juta penduduk yang sudah menjalani CKG hingga Juli 2026, sebanyak 34.961 anak dan remaja atau 1,08 persen terdeteksi mengalami gejala depresi. Sebanyak 33.290 anak dan remaja lain, atau 1,03 persen, terdeteksi mengalami gejala cemas.
Sebagai pembanding, Kemenkes mencatat sekitar 186 ribu orang dewasa dengan gejala gangguan jiwa dalam periode pemeriksaan yang sama. Secara proporsi terhadap populasi yang diperiksa, kelompok anak dan remaja tetap lebih berisiko.
Wamenkes Dante menyebut angka ini berpotensi menjadi fenomena gunung es. Artinya, kasus yang terdeteksi lewat CKG kemungkinan hanya sebagian dari kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Temuan ini sejalan dengan data global. Menurut WHO, sekitar 1 dari 7 anak usia 10–19 tahun di dunia mengalami masalah kesehatan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai penyebab utama.
Di tingkat nasional, survei I-NAMHS tahun 2022 mencatat 34,8 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka ini jauh lebih tinggi dari proporsi 1,08 persen yang tercatat lewat skrining CKG, yang menunjukkan gap besar antara prevalensi sebenarnya dan kasus yang benar-benar terdeteksi sistem kesehatan.
Data Kemenkes: Temuan dari Program Cek Kesehatan Gratis

| Kelompok | Jumlah Terdeteksi | Persentase | Gejala Utama |
|---|---|---|---|
| Anak & remaja usia sekolah | 34.961 | 1,08% | Depresi |
| Anak & remaja usia sekolah | 33.290 | 1,03% | Cemas |
| Dewasa | ~186.000 | — | Depresi & cemas |
Sumber: Kemenkes RI, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) per Juli 2026, dari sekitar 33 juta penduduk yang diperiksa.
Tren Naik: Percobaan Bunuh Diri Pelajar 2015 vs 2023

Kemenkes memaparkan data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) yang membandingkan kondisi pelajar pada 2015 dan 2023. Datanya menunjukkan tren yang konsisten memburuk.
| Indikator | 2015 | 2023 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Siswa dengan ide/pikiran mengakhiri hidup | 5,4% | 8,5% | Naik |
| Siswa yang mencoba mengakhiri hidup | 3,9% | 10,7% | Naik 2,7 kali lipat |
Sumber: Global School-Based Student Health Survey (GSHS), dipaparkan Wamenkes Dante Saksono Harbuwono, 4 September 2026.
Wamenkes menekankan kelompok usia 11–17 tahun paling rentan mencoba bunuh diri dibanding kelompok usia lain yang dievaluasi. Ia juga mengingatkan kasus yang terlihat di permukaan, seperti kasus bunuh diri yang terekspos publik, hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya terjadi.
Faktor Risiko yang Berkontribusi

Beberapa penelitian akademik Indonesia membantu menjelaskan apa yang mendorong angka ini. Studi di jurnal HIGEIA (Universitas Negeri Semarang) pada siswa sekolah dasar menemukan hubungan signifikan antara gangguan mental emosional anak dengan tingkat pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, pola konsumsi sayur, dan gangguan tidur.
Faktor lain yang kerap disebut dalam literatur kesehatan remaja Indonesia:
- Tekanan media sosial: perbandingan sosial dan standar kecantikan atau kesuksesan yang tidak realistis meningkatkan risiko cemas dan depresi.
- Pola asuh: pengasuhan yang terlalu protektif atau justru kurang perhatian sama-sama berisiko menaikkan gangguan mental.
- Bullying dan kekerasan seksual: tekanan emosional dari perundungan menjadi salah satu pemicu perilaku menyakiti diri sendiri.
- Penyalahgunaan zat: prevalensi konsumsi ganja pada remaja tercatat 5,5 persen, lebih tinggi dibanding kelompok dewasa yang tercatat 4,4 persen.
- Stigma dan akses layanan: stigma terhadap gangguan mental masih menghambat banyak remaja mencari bantuan profesional.
Tanda yang Perlu Diwaspadai Orang Tua dan Guru

Perubahan pada anak atau remaja tidak selalu tampak jelas. Beberapa tanda yang umum disebut dalam panduan kesehatan remaja meliputi:
- Terlihat tidak bersemangat atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasa disukai
- Nafsu makan berkurang secara signifikan
- Pola tidur terganggu atau sulit tidur
- Menarik diri dari pergaulan sosial
- Perubahan mood yang tiba-tiba dan mudah tersinggung
Langkah yang Bisa Dilakukan
- Buka komunikasi tanpa menghakimi. Tanyakan kondisi anak secara rutin, bukan hanya saat ada masalah tampak.
- Perhatikan pola tidur dan makan. Perubahan drastis pada dua hal ini sering jadi indikator awal.
- Batasi tekanan media sosial berlebihan. Diskusikan konten yang memicu perbandingan sosial negatif.
- Cari bantuan profesional lebih awal. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk.
- Manfaatkan layanan yang sudah tersedia. Wamenkes menegaskan layanan psikolog di Puskesmas masih tercakup BPJS Kesehatan, membantah kabar yang menyebut layanan ini sudah tidak lagi dicover.
Baca Juga Waspada, Warga Desa Wajib Paham Literasi Keuangan Lawan Pinjol Ilegal
FAQ — Risiko Gangguan Jiwa Anak dan Remaja
Benarkah risiko gangguan jiwa anak 1,6 kali lebih tinggi dari dewasa?
Ya. Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis Kemenkes per Juli 2026, risiko gangguan kesehatan jiwa pada anak usia sekolah dan remaja 1,6 kali lebih tinggi dibanding kelompok dewasa dan lansia.
Apa penyebab utama gangguan jiwa pada anak dan remaja di Indonesia?
Faktor yang berkontribusi antara lain tekanan media sosial, pola asuh, bullying, penyalahgunaan zat, gangguan tidur, serta kondisi ekonomi dan pendidikan orang tua.
Apakah layanan psikolog untuk anak masih ditanggung BPJS?
Ya. Wamenkes Dante Saksono Harbuwono secara resmi membantah kabar yang menyebut layanan psikolog di Puskesmas tidak lagi dicover BPJS Kesehatan.
⚠️ Catatan: Artikel ini membahas data statistik kesehatan jiwa untuk tujuan edukasi. Jika Anda atau anak Anda sedang mengalami krisis kesehatan mental, segera hubungi tenaga profesional, layanan psikolog Puskesmas terdekat, atau layanan darurat 119 ext. 8 (Kemenkes).


