Berdasarkan survei Rakuten Insight Desember 2023, sebanyak 84% konsumen Indonesia telah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam setahun terakhir. Angka ini menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang signifikan terhadap isu keberlanjutan lingkungan. Namun, tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah keterjangkauan harga produk ramah lingkungan dan ketersediaan informasi yang memadai.
Perubahan gaya hidup berkelanjutan bukan lagi sekadar tren, tetapi kebutuhan mendesak. Dengan Indonesia sebagai penghasil 4,22 juta ton sampah plastik pada 2023 dan 44% di antaranya tidak terkelola dengan baik, edukasi menjadi kunci transformasi perilaku konsumen menuju pola hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Artikel ini menghadirkan panduan komprehensif berbasis data terbaru 2025-2026 tentang bagaimana edukasi sustainability mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia, lengkap dengan strategi implementasi, tantangan, dan solusi praktis yang dapat Anda terapkan.
Berdasarkan Rakuten Insight 2023, edukasi sustainability adalah proses pembelajaran dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang praktik hidup berkelanjutan yang terbukti mengubah perilaku konsumsi 84% warga Indonesia dalam mengurangi plastik sekali pakai. Program edukasi ini mencakup kampanye pengurangan limbah, promosi produk ramah lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan generasi mendatang.
Mengapa Edukasi Sustainability Penting untuk Indonesia 2026

Berdasarkan data SWITCH-Asia 2024, Indonesia menghasilkan 15,3 kg sampah plastik per kapita per tahun. Meskipun angka ini lebih rendah dari rata-rata global (32 kg per kapita), namun dengan jumlah penduduk lebih dari 275 juta jiwa, total sampah plastik yang dihasilkan mencapai 4,22 juta ton pada 2023.
Yang lebih mengkhawatirkan, 1,848 juta ton sampah plastik tidak terkelola dengan baik, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah sampah plastik tidak terkelola terbesar ke-8 di dunia. Empat sungai di Jawa—Brantas, Solo, Serayu, dan Progo—mengangkut jutaan ton plastik ke laut setiap tahunnya.
Di tengah kondisi ini, edukasi sustainability menjadi solusi fundamental. Survey Rakuten Insight menunjukkan bahwa 63% konsumen Indonesia menganggap sangat penting untuk membeli produk yang dibuat atau dikemas secara berkelanjutan. Namun, hambatan utama adalah harga yang lebih tinggi (35,7% responden) dan kurangnya informasi (35,2%).
Program edukasi yang efektif dapat menjembatani kesenjangan ini dengan:
- Meningkatkan literasi tentang dampak konsumsi terhadap lingkungan
- Memberikan informasi praktis tentang alternatif produk berkelanjutan
- Mengubah persepsi tentang nilai jangka panjang produk ramah lingkungan
- Memberdayakan masyarakat untuk membuat keputusan konsumsi yang lebih bijak
Target Pemerintah Indonesia: Melalui National Action Plan on Marine Plastic Debris 2017-2025, pemerintah menargetkan pengurangan 70% sampah plastik laut pada 2025, dengan implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen mengurangi 30% limbah produk pada 2029.
Dampak Nyata Edukasi Sustainability pada Perilaku Konsumen Indonesia

Berdasarkan data NielsenIQ Indonesia Mid-Year Consumer Outlook 2024, kesadaran sustainability telah mengubah perilaku belanja masyarakat secara signifikan. Berikut adalah perubahan konkret yang terukur:
Data Perubahan Perilaku Konsumen (2023-2024):
Menurut survei NielsenIQ 2024, 58% konsumen Indonesia bersedia membayar lebih untuk kenyamanan dan momen spesial, sementara 64% memilih pengalaman di rumah untuk menghemat biaya makan dan hiburan. Dalam konteks sustainability, 46% konsumen memanfaatkan belanja online untuk mendapatkan penawaran lebih baik, 38% beralih ke produk yang lebih murah, dan 36% membeli lebih banyak barang diskon.
Data Ubertrends 2025 mengungkapkan bahwa 62% konsumen Indonesia bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan, meskipun 52% menyatakan skeptis terhadap transparansi program sustainability perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga menciptakan konsumen yang lebih kritis dan menuntut akuntabilitas.
Praktik Sustainability yang Diadopsi (Rakuten Insight 2023):
- 84% mengurangi plastik sekali pakai
- 68% konsumen Indonesia mengadopsi praktik sustainability dalam pembelian (tertinggi di Southeast Asia)
- 63% menganggap penting membeli produk ramah lingkungan
Program Nasional yang Mendorong Perubahan:
Implementasi National Action Plan on Marine Debris berhasil mengurangi kebocoran sampah plastik sebesar 41,68% antara 2018-2023, menurut World Economic Forum 2024. Program ini mencakup peningkatan infrastruktur pengelolaan limbah, kampanye edukasi publik, dan larangan plastik sekali pakai di daerah-daerah besar seperti Jakarta dan Bali.
Indonesia juga menjadi contoh melalui National Plastic Action Partnership (NPAP) yang menargetkan pengurangan 70% kebocoran plastik laut pada 2025, dengan dukungan dari Global Plastic Action Partnership World Economic Forum.
Strategi Implementasi Edukasi Sustainability yang Efektif

Berdasarkan studi Discover Sustainability 2025 tentang praktik bisnis berkelanjutan di Indonesia, edukasi sustainability memerlukan kombinasi kesadaran (awareness), tata kelola etis, dan inovasi teknologi. Berikut strategi implementasi yang terbukti efektif:
1. Program Edukasi Berbasis Komunitas
Biodiversity Small Funds Initiative yang didanai Pemerintah Kanada melalui GPAP membuktikan bahwa pemberdayaan kelompok akar rumput sangat efektif dalam mengatasi polusi plastik. Program Project Nomad di Indonesia mengkonversi sampah plastik menjadi produk yang dapat digunakan kembali dan kredit plastik, menunjukkan model sirkuler regeneratif yang dipimpin oleh perempuan, pemuda, masyarakat adat, dan pekerja informal.
2. Integrasi Sustainability dalam Kebijakan Nasional
Pemerintah Indonesia mengintegrasikan sustainability ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan komitmen mencapai 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB pada 2030, berdasarkan data BPS 2025. Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan dan transisi energi cepat di KTT G20 Brasil November 2024.
3. Standarisasi dan Sertifikasi ESG
Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengembangkan standar yang memberikan kerangka kerja bagi organisasi untuk memenuhi tujuan ESG (Environmental, Social, Governance), mencakup jejak karbon, manajemen limbah, keberagaman, hak asasi manusia, transparansi, dan kepatuhan regulasi.
4. Edukasi Melalui Platform Digital
Dengan penetrasi internet mencapai 79,5% pada 2024 dan proyeksi smartphone 94% pada 2028 (Ubertrends 2025), platform digital menjadi saluran edukasi yang sangat efektif. Media sosial menjadi sumber berita utama bagi 72% warga Indonesia (Standard Insights 2024), sementara 37% berbelanja online setiap minggu dan 36% berbelanja online beberapa kali per minggu.
5. Kemitraan Multi-stakeholder
Kolaborasi BPS, Sekretariat Nasional SDGs Bappenas, dan Badan Informasi Geospasial (BIG) dalam publikasi Indonesian Sustainable Development Goals Indicators 2025 menunjukkan sinergi data statistik, analisis pencapaian indikator SDG, dan presentasi spasial indikator SDG dalam bentuk peta untuk menghasilkan laporan terintegrasi dan komprehensif.
Langkah Praktis Implementasi:
- Mulai dengan edukasi tentang dampak konsumsi pribadi terhadap lingkungan menggunakan kalkulator jejak karbon
- Ikuti program edukasi sustainability dari lembaga terpercaya atau universitas
- Bergabung dengan komunitas zero waste atau sustainability lokal
- Manfaatkan media sosial untuk berbagi praktik berkelanjutan dan menginspirasi orang lain
- Dukung bisnis yang transparan tentang praktik sustainability mereka dengan sertifikasi yang jelas
Tantangan dan Solusi dalam Edukasi Sustainability Indonesia

Meskipun kesadaran meningkat, implementasi edukasi sustainability menghadapi berbagai hambatan. Survey Rakuten Insight 2023 mengidentifikasi tantangan utama yang perlu diatasi:
Tantangan Utama:
- Harga Produk Berkelanjutan (35,7% responden, naik dari 30,9% tahun 2022): Produk ramah lingkungan umumnya lebih mahal, menjadi penghalang bagi konsumen dengan daya beli terbatas. Data NielsenIQ 2024 menunjukkan kepercayaan konsumen menurun, dengan hanya 13% merasa aman secara finansial (turun dari 26% tahun 2023), sementara 41% menjadi lebih berhati-hati dalam pengeluaran.
- Kurangnya Informasi (35,2%, naik dari 30,4% tahun 2022): Banyak konsumen kesulitan menemukan produk berkelanjutan di area mereka atau tidak memiliki cukup informasi untuk membuat keputusan yang tepat.
- Skeptisisme terhadap Greenwashing: 52% konsumen skeptis terhadap transparansi program sustainability perusahaan (Ubertrends 2025), menunjukkan kebutuhan akan standar dan verifikasi yang lebih ketat.
- Gap antara Niat dan Tindakan: Meskipun 90% konsumen bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan, lokal, dan etis (NIQ Analysis 2024), implementasi aktual masih terbatas oleh kendala finansial dan ketersediaan produk.
Solusi Strategis:
Untuk Konsumen:
- Prioritaskan perubahan gaya hidup yang tidak memerlukan biaya tambahan seperti mengurangi konsumsi, menggunakan ulang barang, dan membawa tas belanja sendiri
- Manfaatkan platform e-commerce untuk membandingkan harga produk ramah lingkungan (46% konsumen menggunakan strategi ini menurut NielsenIQ 2024)
- Bergabung dengan komunitas sustainability untuk berbagi informasi dan mendapatkan rekomendasi produk
- Mulai dari perubahan kecil namun konsisten seperti membawa botol minum sendiri (praktik umum Gen Z Indonesia menurut Statista 2024)
Untuk Pemerintah dan Regulator:
- Implementasi eco-modulation pada pajak plastik untuk memandu konsumen ke produk yang lebih ramah lingkungan
- Perkuat implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) yang saat ini mengumpulkan lebih dari 1.000 ton sampah plastik antara 2020-2023
- Tingkatkan transparansi dan enforcement standar sustainability melalui BSN
- Percepat transisi ke sanitary/controlled landfills sesuai mandat pemerintah daerah
Untuk Bisnis:
- Komunikasikan praktik sustainability secara transparan dengan sertifikasi yang kredibel untuk mengatasi skeptisisme konsumen
- Integrasikan sustainability ke dalam operasi inti, bukan hanya sebagai strategi marketing
- Tawarkan opsi produk berkelanjutan dengan berbagai tingkat harga untuk meningkatkan aksesibilitas
- Investasi dalam teknologi circular economy seperti chemical recycling dan bioplastik dari biomassa berkelanjutan (contoh: komitmen UK sebesar £3,2 juta untuk inovasi kemasan plastik 2023)
Program Pemerintah yang Dapat Dimanfaatkan:
- Bank Sampah untuk memberdayakan masyarakat secara ekonomi sambil mengurangi limbah
- Insentif fiskal untuk industri yang berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan (pengurangan pajak penghasilan 100% untuk investasi ≥ Rp 500 miliar sesuai PMK No. 159/2015)
- Kampanye edukasi publik melalui National Action Plan on Marine Debris
Peran Generasi Muda dalam Transformasi Sustainability

Data menunjukkan bahwa Generasi Z memimpin tren sustainability dengan 88% menghargai keberlanjutan (Rakuten Insight APAC 2024), diikuti oleh Millennial (59%) dan bahkan Baby Boomers (79%). Di Indonesia, Gen Z dan Millennial paling proaktif dengan 56% dan 59% telah mengadopsi praktik sustainability.
Praktik Sustainability Gen Z Indonesia (Statista 2024):
- Membawa botol minum sendiri untuk mengurangi limbah
- Menggunakan tas belanja yang dapat digunakan kembali
- Menghindari plastik sekali pakai
- Membeli produk dengan kemasan plastik minimal
- Membawa wadah makanan sendiri
Generasi muda Indonesia juga memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan sustainability. Dengan penggunaan media sosial mencapai 3 jam 8 menit per hari dan penjualan retail social commerce diproyeksikan mencapai $5,25 miliar pada 2025 (Ubertrends 2025), platform digital menjadi medium powerful untuk menyebarkan edukasi sustainability.
Peluang untuk Generasi Muda:
- Karir di bidang ESG dan sustainability yang berkembang pesat di Indonesia
- Entrepreneurship berbasis circular economy seperti Project Nomad yang mengkonversi sampah plastik
- Influencer marketing untuk sustainability (76% pengguna mengikuti setidaknya satu influencer, dengan industri influencer marketing global mencapai $24 miliar pada 2024)
- Partisipasi dalam program Biodiversity Small Funds Initiative dan proyek grassroots lainnya
Teknologi dan Inovasi dalam Edukasi Sustainability
Transformasi digital Indonesia membuka peluang besar untuk edukasi sustainability yang lebih efektif dan berskala besar. Pasar e-commerce diproyeksikan mencapai $94,5 miliar pada 2025, dengan 67% volume e-commerce melalui perangkat mobile.
Platform Digital untuk Edukasi Sustainability:
- E-Learning dan Webinar: Universitas dan lembaga pelatihan menawarkan kursus online tentang sustainability, ESG, dan circular economy yang dapat diakses siapa saja.
- Aplikasi Sustainability Tracker: Aplikasi yang membantu konsumen melacak jejak karbon, konsumsi plastik, dan memberikan rekomendasi produk ramah lingkungan.
- Social Commerce untuk Produk Berkelanjutan: Platform seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada mengoptimalkan pengalaman mobile shopping dengan fitur one-click payment dan live commerce untuk produk sustainability.
- Blockchain untuk Transparansi Supply Chain: Teknologi blockchain memungkinkan tracking produk dari sumber hingga konsumen, mengatasi skeptisisme terhadap greenwashing.
Inovasi Teknologi Pengelolaan Plastik:
Indorama Ventures berkomitmen mengumpulkan 50 miliar botol PET per tahun dari seluruh Indonesia pada akhir 2023 melalui pabrik daur ulang baru mereka. Fasilitas ini akan menyediakan 217 ‘green jobs’ dan menunjukkan bagaimana teknologi advanced recycling dapat menciptakan ekonomi sirkular.
Penelitian juga menunjukkan potensi teknologi seperti:
- Chemical recycling untuk plastik yang sulit didaur ulang secara mekanis
- Bioplastik dari biomassa berkelanjutan atau karakteristik biodegradable (UK mengalokasikan £3,2 juta untuk inovasi ini pada 2023)
- Sistem EPR digital untuk tracking dan pelaporan waste reduction
Digitalisasi Layanan Pemerintah: Indonesia mengembangkan portal One Data yang dikoordinasikan oleh Bappenas, Kantor Staf Presiden (KSP), dan BPS untuk menyediakan data SDGs yang terintegrasi dan mudah diakses publik.
Ekonomi Sirkular dan Masa Depan Sustainability Indonesia
Indonesia telah meluncurkan National Roadmap and Action Plan Circular Economy Indonesia 2025-2045 yang mengadopsi prinsip 9R (Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, Recycle, Recover) dalam pengelolaan sumber daya dan limbah.
Target Ekonomi Sirkular Indonesia:
Berdasarkan Presidential Decree No.97/2017 (JAKSTRANAS) dan Presidential Decree No.83/2018 (Plan of Action on Marine Plastic Debris 2017-2025), Indonesia menargetkan:
- Pengurangan 70% sampah plastik laut pada 2025
- Pengurangan 30% limbah produsen pada 2029 melalui EPR
- Penghapusan bertahap plastik sekali pakai seperti kantong plastik dan sedotan pada 2029
- Transisi ke sanitary atau controlled landfills di semua pemerintah daerah
Peluang Ekonomi dari Sustainability:
Standard Insights 2025 memproyeksikan pasar konsumen Indonesia akan melampaui $1 triliun pada 2024. Dengan 66,35% populasi adalah kelas menengah atau yang mendekati status tersebut, dan mereka menghabiskan 81,49% dari total pengeluaran rumah tangga pada 2024, terdapat pasar besar untuk produk dan layanan berkelanjutan.
Sektor-sektor yang berkembang:
- Fitness dan Wellness: Diproyeksikan mencapai $3 miliar pada 2025 (Statista 2023)
- Produk Berkelanjutan: Pertumbuhan CAGR 10% hingga 2025 (Grand View Research 2023)
- Digital Economy: Diperkirakan mencapai $146 miliar pada 2025 didorong oleh e-commerce, fintech, dan digital services (Google, Temasek, Bain & Company 2023)
- Green Jobs: Contohnya fasilitas daur ulang Indorama menciptakan 217 pekerjaan hijau
Investasi dalam Sustainability:
Sekitar 100 perusahaan merilis Sustainability Reports pada 2020, meningkat dari 54 pada 2016 (data UN SDG Indonesia). Ini menunjukkan meningkatnya akuntabilitas korporat dan kesadaran bahwa sustainability bukan hanya tanggung jawab sosial tetapi juga strategi bisnis yang menguntungkan.
Pemerintah juga menyediakan insentif fiskal termasuk pengurangan 100% pajak penghasilan untuk investasi dalam fasilitas pengurangan limbah senilai Rp 500 miliar atau lebih (PMK No. 159/2015).
Mengukur Dampak Edukasi Sustainability
Untuk memastikan efektivitas program edukasi sustainability, pengukuran dampak yang sistematis sangat penting. BPS Indonesia melalui publikasi Indonesian SDG Indicators mengembangkan metode untuk mengukur perilaku ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Indikator Keberhasilan Edukasi Sustainability:
- Pengurangan Konsumsi Plastik Sekali Pakai: Target 84% konsumen mengurangi penggunaan (tercapai menurut Rakuten Insight 2023)
- Peningkatan Kesadaran Produk Berkelanjutan: 63% menganggap penting membeli produk ramah lingkungan (Rakuten Insight 2023)
- Kesediaan Membayar Premium: 62% bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan (Nielsen 2023, Ubertrends 2025)
- Adopsi Praktik Sustainability: 68% konsumen Indonesia mengadopsi praktik sustainability dalam pembelian (tertinggi di Southeast Asia menurut Rakuten Insight 2023)
- Pengurangan Limbah Plastik Nasional: 41,68% pengurangan kebocoran sampah plastik 2018-2023 (World Economic Forum 2024)
Metode Pengukuran:
BPS menggunakan kombinasi:
- Data sensus dan survei untuk mengukur perubahan perilaku konsumen
- Data geospasial (DEGURBA – Degree of Urbanization) untuk mapping progres SDGs
- Kolaborasi multi-stakeholder (BPS, Bappenas, BIG) untuk data terintegrasi
- Portal One Data untuk akses publik ke informasi SDGs yang terstandarisasi
Transparansi dan Akuntabilitas:
Dengan 52% konsumen skeptis terhadap klaim sustainability perusahaan, pengukuran dampak yang transparan dan terverifikasi oleh pihak ketiga menjadi krusial. BSN menyediakan kerangka standarisasi untuk pelaporan ESG yang kredibel.
Baca Juga Cara Terbukti Tingkatkan Literasi Sosial 2026
FAQ: Edukasi Sustainability Ubah Gaya Hidup Warga Indonesia
1. Apa itu edukasi sustainability dan mengapa penting?
Edukasi sustainability adalah proses pembelajaran yang meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup berkelanjutan. Berdasarkan Rakuten Insight 2023, 84% konsumen Indonesia telah mengurangi plastik sekali pakai setelah mendapat edukasi sustainability. Penting karena Indonesia menghasilkan 4,22 juta ton sampah plastik per tahun dengan 44% tidak terkelola, sehingga edukasi menjadi kunci perubahan perilaku untuk melindungi lingkungan.
2. Berapa persen warga Indonesia yang mengubah gaya hidup karena edukasi sustainability?
Berdasarkan data terverifikasi, 84% konsumen Indonesia mengurangi penggunaan plastik sekali pakai (Rakuten Insight 2023), 68% mengadopsi praktik sustainability dalam pembelian (tertinggi di Southeast Asia), dan 63% menganggap penting membeli produk ramah lingkungan. Survei Nielsen 2023 juga menunjukkan 62% bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan.
3. Apa hambatan utama dalam menerapkan gaya hidup berkelanjutan?
Survey Rakuten Insight 2023 mengidentifikasi dua hambatan utama: harga produk berkelanjutan lebih mahal (35,7% responden) dan kurangnya informasi atau kesulitan menemukan produk berkelanjutan (35,2%). Ubertrends 2025 menambahkan bahwa 52% konsumen skeptis terhadap transparansi program sustainability perusahaan, menunjukkan kebutuhan akan standar dan verifikasi yang lebih ketat.
4. Bagaimana pemerintah Indonesia mendukung edukasi sustainability?
Pemerintah meluncurkan National Action Plan on Marine Plastic Debris yang berhasil mengurangi kebocoran sampah plastik 41,68% antara 2018-2023. Program lain termasuk Extended Producer Responsibility (EPR) dengan target 30% pengurangan limbah produsen pada 2029, penghapusan bertahap plastik sekali pakai pada 2029, dan integrasi SDGs ke dalam RPJMN 2020-2024. Indonesia juga menjadi contoh melalui National Plastic Action Partnership yang menargetkan 70% pengurangan kebocoran plastik laut pada 2025.
5. Produk apa saja yang termasuk kategori berkelanjutan?
Produk berkelanjutan mencakup: produk dengan kemasan minimal atau biodegradable, produk dari bahan daur ulang, produk lokal yang mengurangi jejak karbon transportasi, produk dengan sertifikasi ramah lingkungan (eco-label), produk yang diproduksi dengan praktik etis dan upah adil, serta produk dengan lifecycle yang lebih panjang (tahan lama). Menurut data 2024, konsumen Indonesia mencari produk dengan biodegradable packaging dan dari produsen lokal.
6. Apakah Gen Z lebih peduli sustainability dibanding generasi lain?
Ya. Data Rakuten Insight APAC 2024 menunjukkan 88% Gen Z menghargai sustainability, dibandingkan dengan Baby Boomers (79%) dan populasi umum. Di Indonesia, 56% Gen Z dan 59% Millennial telah aktif mengadopsi praktik sustainability. Statista 2024 mencatat praktik umum Gen Z Indonesia termasuk membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja reusable, menghindari plastik sekali pakai, dan membeli produk dengan kemasan minimal.
7. Bagaimana cara memulai gaya hidup berkelanjutan dengan budget terbatas?
Mulai dengan perubahan tanpa biaya tambahan: kurangi konsumsi, gunakan ulang barang yang ada, bawa tas belanja sendiri, bawa botol minum sendiri, dan bawa wadah makanan sendiri. Manfaatkan platform e-commerce untuk membandingkan harga (46% konsumen menggunakan strategi ini menurut NielsenIQ 2024). Bergabung dengan bank sampah atau komunitas sustainability untuk mendapat informasi dan bahkan penghasilan tambahan dari daur ulang.
Edukasi Sustainability Ubah Gaya Hidup Warga Indonesia 2026
Edukasi sustainability telah membawa perubahan nyata dan terukur pada perilaku konsumen Indonesia. Data menunjukkan bahwa 84% konsumen mengurangi plastik sekali pakai, 68% mengadopsi praktik sustainability dalam pembelian, dan 62% bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan. Namun, tantangan harga dan ketersediaan informasi masih perlu diatasi melalui kolaborasi pemerintah, bisnis, dan masyarakat.
Poin Kunci yang Perlu Diingat:
- Indonesia berkomitmen mencapai 70% pengurangan sampah plastik laut pada 2025 dan 30% pengurangan limbah produsen pada 2029
- Program National Action Plan on Marine Debris telah mengurangi kebocoran sampah plastik 41,68% antara 2018-2023
- Generasi muda (Gen Z dan Millennial) memimpin transformasi sustainability dengan tingkat adopsi tertinggi
- Teknologi digital dan platform e-commerce membuka peluang edukasi dan akses produk berkelanjutan yang lebih luas
- Ekonomi sirkular menciptakan peluang bisnis dan pekerjaan hijau yang menguntungkan
Masa depan sustainability Indonesia bergantung pada komitmen bersama semua pihak. Dengan meningkatkan literasi, memperbaiki akses ke produk ramah lingkungan, dan memastikan transparansi praktik bisnis, Indonesia dapat mencapai target SDGs 2030 dan menciptakan ekonomi yang sejahtera sekaligus berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Mulailah dari Langkah Kecil: Tidak perlu menunggu kondisi sempurna atau budget besar. Pilih satu atau dua perubahan sederhana seperti membawa tas belanja atau botol minum sendiri, dan tingkatkan secara bertahap. Setiap tindakan kecil berkontribusi pada dampak besar untuk lingkungan.
Spesialisasi: Awareness, Education, Social Information dengan fokus pada isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Tim kami terdiri dari peneliti, praktisi sustainability, dan komunikator yang berdedikasi untuk menyebarkan informasi berbasis data untuk mendorong perubahan positif.
Referensi
Sumber data yang digunakan dalam artikel ini:
- Rakuten Insight (2023) – Survey Sustainable Consumption in Indonesia, Desember 2023
- SWITCH-Asia (2024) – Plastic Policies in Indonesia Country Profile
- BPS – Statistics Indonesia (2025) – 2025 Indonesian Sustainable Development Goals Indicators
- NielsenIQ (2024) – Indonesia Mid-Year Consumer Outlook Guide to 2025
- Ubertrends (2025) – 10 Key Indonesia Consumer Trends Shaping the Market in 2025
- World Economic Forum (2024) – Why Plastic Pollution is an Economic and Ecological Emergency
- Discover Sustainability (2025) – Sustainable Business Practices in Indonesia and Brunei Darussalam
- ISO/BSN (2025) – Building Indonesia’s Sustainable Future
- Standard Insights (2024, 2025) – Consumer Report Indonesia 2024 & 2025
- Market Research Indonesia (2025) – Shifts in Indonesia Consumer Behavior Trends
- United Nations SDG Platform – Indonesia Sustainable Development Knowledge Platform
- Statista – Sustainable Consumer Habits in Indonesia (berbagai tahun)
Disclaimer: Artikel ini ditulis berdasarkan data dan riset terpublikasi dari sumber-sumber terpercaya hingga Februari 2026. Statistik dan persentase yang disebutkan mengacu pada studi spesifik yang tercantum dalam referensi. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi independen untuk keputusan penting terkait investasi atau kebijakan.

