Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 menunjukkan angka 44,53—meningkat 1,19 poin dari tahun sebelumnya. Namun di balik angka positif ini, tersimpan fakta mengejutkan: skor literasi digital justru anjlok ke level 49,28 menurut data Kementerian Komunikasi dan Digital yang dirilis Oktober 2025. Ironi ini semakin jelas ketika melihat bahwa 229,4 juta penduduk Indonesia (80,66% populasi) sudah terkoneksi internet berdasarkan survei APJII 2025, dengan Gen Z mendominasi 25,54% dari total pengguna.
Fakta yang lebih mengkhawatirkan: sepanjang 2024, Kementerian Komunikasi dan Digital mengidentifikasi 1.923 konten hoaks. Padahal, generasi yang disebut “digital native” seharusnya paling mahir menggunakan teknologi—tapi kenyataannya justru rentan terhadap informasi palsu.
Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana Literasi Digital Gen Z Cara Efektif Pencegah Hoaks 2025 dengan data terkini, studi kasus nyata di Indonesia, dan langkah praktis yang bisa langsung diterapkan hari ini.
Data Terkini: Seberapa Parah Masalah Hoaks di Kalangan Gen Z?

Survei APJII 2025 mengungkapkan bahwa pengguna internet Indonesia telah mencapai 229.428.417 jiwa (80,66% populasi) dari total 284,4 juta penduduk. Gen Z dengan usia 12-27 tahun menjadi kelompok paling dominan dengan kontribusi 25,54%, disusul Milenial 25,17% dan Gen Alpha 23,19%. Artinya, lebih dari setengah pengguna internet Indonesia adalah generasi muda.
Namun konektivitas tinggi tidak berbanding lurus dengan literasi digital. Pengukuran IMDI 2025 yang dilakukan Juli-Agustus 2025 melibatkan 18 ribu responden individu dan 11 ribu responden industri menunjukkan bahwa meski IMDI naik menjadi 44,53, skor literasi digital justru menurun ke 49,28—angka yang mengkhawatirkan.
Sepanjang 2024, Komdigi mengidentifikasi 1.923 konten hoaks yang beredar di platform digital. Menurut Wamenkomdigi Nezar Patria dalam acara SindoNews Sharing Session November 2025, dengan 143 juta pengguna aktif media sosial dan 230 juta pengguna internet, ruang digital menjadi arena interaksi sekaligus penyebaran misinformasi dan disinformasi yang tumbuh subur.
Data Kunci 2025:
- Pengguna internet Indonesia: 229,4 juta jiwa (80,66% populasi)
- Gen Z mendominasi: 25,54% dari total pengguna
- IMDI 2025: 44,53 (naik 1,19 poin)
- Literasi digital: 49,28 (anjlok dari tahun sebelumnya)
- Konten hoaks 2024: 1.923 kasus teridentifikasi
- Pengguna aktif media sosial: 143 juta
Mengapa Gen Z Rentan Terhadap Hoaks Meski Mahir Digital?

Meski tumbuh bersama teknologi, survei YouGov April 2023 yang dikutip peneliti Glasgow Caledonian University, Jati Savitri Sekargati, mengungkapkan bahwa generasi yang paling banyak terpapar hoaks justru usia 18-29 tahun—kategori Gen Z dan Milenial muda. Paradoks ini terjadi karena beberapa faktor kunci.
Faktor Utama Kerentanan:
Overconfidence Digital: Gen Z merasa sudah pintar teknologi hanya karena terbiasa dengan media sosial. Data APJII 2025 menunjukkan 35,75% pengguna mengakses internet 4-6 jam per hari, dan 7,66% bahkan lebih dari 10 jam sehari. Namun durasi tinggi tidak sama dengan literasi tinggi—pemahaman soal enkripsi, privasi data, dan verifikasi informasi masih sangat minim.
Konsumsi Konten Instan: Aplikasi yang paling sering digunakan adalah TikTok (35,17%), YouTube (23,76%), dan Facebook (21,58%). Platform berbasis video pendek mendorong pola konsumsi serba cepat tanpa proses verifikasi mendalam.
Kurangnya Edukasi Sistematis: Direktur Informasi Publik Kemkomdigi Nursodik Gunarjo dalam acara IGID Goes to Campus di UMY November 2025 menyoroti bahwa literasi digital masih dipandang sebagai bonus, bukan kebutuhan fundamental dalam kurikulum pendidikan.
Tekanan Sosial Media: Takut ketinggalan tren (FOMO) mendorong sharing reaktif. Gen Z lebih mungkin berbagi informasi tanpa verifikasi hanya untuk tetap relevan dalam lingkaran pertemanan digital.
Echo Chamber Effect: Algoritma media sosial menciptakan ruang gema yang mempersempit pandangan, membuat disinformasi mudah tumbuh subur.
Dampak Nyata Hoaks pada Gen Z: Dari Finansial hingga Mental

Dampak hoaks bukan sekadar “salah informasi”—ada konsekuensi nyata yang merusak kehidupan Gen Z Indonesia. Data APJII 2025 mencatat ancaman serius: 24,89% responden mengalami pencurian data pribadi, 22,12% perangkat terkena virus, dan 16,09% mengalami phishing atau hacking.
Kasus Nyata Penipuan Digital:
Selama Oktober 2024 hingga Maret 2025, lebih dari 1,3 juta konten negatif beredar di media sosial, termasuk 233 ribu konten pornografi dan 5,7 juta konten perjudian online. Yang lebih mengkhawatirkan, 48% perempuan Indonesia pernah mengalami penipuan digital, dan 1.791 kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) dilaporkan sepanjang 2024.
Kerugian Finansial Riil:
Banyak akun palsu menawarkan hadiah, diskon, atau pekerjaan dengan iming-iming menarik. Gen Z yang tergiur akhirnya memberikan data pribadi seperti nomor KTP, foto selfie dengan KTP, bahkan data rekening—yang kemudian disalahgunakan untuk penipuan atau pinjaman online ilegal.
Data Bocor Pinjol Ilegal:
Tidak sedikit aplikasi pinjaman online ilegal mengakses seluruh kontak telepon pengguna. Akibatnya, bukan hanya peminjam yang jadi korban, tetapi juga teman dan keluarga mereka yang diteror debt collector.
Investasi Bodong:
Investasi dengan janji return tinggi dalam waktu singkat masih banyak beredar. Minimnya pemahaman tentang literasi keuangan digital membuat Gen Z mudah percaya pada skema ponzi atau investasi cryptocurrency palsu.
Dampak Kesehatan Mental:
Hoaks membuat orang hidup dalam suasana paranoia, tidak bisa hidup dengan tenang, dan akhirnya mempengaruhi pertimbangan secara sehat dan rasional. Paparan berulang terhadap informasi negatif menyebabkan kecemasan dan gangguan mental.
7 Cara Efektif Literasi Digital untuk Melawan Hoaks

Literasi Digital Gen Z Cara Efektif Pencegah Hoaks 2025 memerlukan pendekatan komprehensif yang didukung data terkini. Kemkomdigi menekankan penguatan empat pilar: Etika Digital, Budaya Digital, Keterampilan Digital, dan Keamanan Digital.
Cara 1: Periksa Fakta Sebelum Berbagi
Koordinator Wilayah Mafindo Bangka Belitung, Suryani, dalam program Sekolah Kebangsaan Oktober 2024 menekankan pentingnya melakukan periksa fakta dan crosscheck pada sumber informasi terpercaya.
Langkah Praktis:
- Gunakan situs cek fakta: Cek Fakta Tempo, Turnbackhoax.id, Cek Fakta Kompas
- Jangan langsung percaya headline sensasional—baca artikel lengkapnya
- Cek tanggal publikasi: konten lama sering diviralkan ulang dengan konteks berbeda
Cara 2: Verifikasi Sumber Informasi
Tidak semua situs yang terlihat profesional itu kredibel. Lakukan verifikasi:
- Cek “About Us” atau profil penulis
- Periksa domain: situs kredibel umumnya menggunakan domain resmi (.go.id untuk pemerintah, .ac.id untuk institusi pendidikan)
- Lihat rekam jejak media: apakah pernah tersangkut kasus hoaks?
Cara 3: Kenali Karakteristik Hoaks
Ciri-ciri Hoaks:
- Judul clickbait dengan huruf kapital berlebihan: “GEGER!!!”, “VIRAL!!!”
- Tidak mencantumkan sumber jelas atau menggunakan sumber abal-abal
- Narasi memancing emosi: marah, takut, atau senang berlebihan
- Foto atau video yang dimanipulasi atau diambil dari konteks berbeda
- Banyak typo dan tata bahasa buruk
Cara 4: Gunakan Reverse Image Search
Hoaks sering menggunakan foto atau video lama dengan narasi baru. Gunakan:
- Google Reverse Image Search
- TinEye
- Yandex Image Search
Upload atau paste URL gambar untuk menemukan sumber asli dan konteks sebenarnya.
Cara 5: Berpikir Kritis dengan “SIFT Method”
Metode SIFT dikembangkan untuk digital literacy:
- Stop: Jangan langsung bereaksi atau share
- Investigate the source: Cek kredibilitas sumber
- Find better coverage: Cari liputan dari media lain yang lebih kredibel
- Trace to original: Lacak sumber asli informasi
Cara 6: Ikuti Media dan Jurnalis Terpercaya
Bangun ekosistem informasi yang sehat dengan follow:
- Media mainstream dengan standar jurnalistik ketat
- Jurnalis terverifikasi (cek centang biru di platform media sosial)
- Akun resmi pemerintah dan institusi terpercaya
- Organisasi cek fakta independen
Cara 7: Edukasi Lingkaran Sosial
Membekali masyarakat sebagai agen literasi digital untuk menyebarluaskan klarifikasi hoaks sangat penting. Jangan hanya diam saat melihat hoaks—tegur dengan sopan dan berikan link klarifikasi.
Pro Tip: Gunakan kalimat yang tidak menghakimi seperti “Hei, aku baru cek di [sumber kredibel], ternyata info ini tidak akurat. Ini link penjelasan lengkapnya…”
Studi Kasus: Bagaimana Gen Z Indonesia Berhasil Deteksi Hoaks
Kasus 1: Hoaks Menteri Bahlil Tersangka Korupsi
Link Facebook beredar dengan konten video narasi bahwa Bahlil, Menteri ESDM, menjadi tersangka kasus korupsi migas. Tim Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) melakukan verifikasi dengan:
- Cek situs resmi pemerintah
- Cross-check pemberitaan media mainstream
- Konfirmasi ke kantor terkait
Hasilnya: Video terbukti manipulasi dan narasi tidak berdasar. Klarifikasi berhasil mencegah viral lebih luas.
Kasus 2: Hoaks Kerusuhan Kalimalang Bekasi
Video kebakaran beredar di TikTok dengan narasi bahwa terjadi kerusuhan di Jalan Kalimalang Bekasi, padahal situasi sudah normal setelah demonstrasi akhir Agustus 2025. Tim Jalahoaks melakukan:
- Mencari video serupa di search engine
- Menelusuri lokasi yang disebutkan
- Cross-check dengan berita media kredibel
- Konfirmasi ke pihak berwenang
Terbukti hoaks dan berhasil diklarifikasi sebelum menyebar masif.
Pembelajaran dari Studi Kasus:
- Verifikasi membutuhkan waktu—jangan buru-buru share
- Multiple source checking adalah kunci
- Kolaborasi dengan fact-checker profesional sangat membantu
- Skeptisisme sehat bukan berarti cynical, tapi bijak
Teknologi dan Tools Anti-Hoaks yang Wajib Gen Z Kuasai
Aplikasi Cek Fakta:
- Cek Fakta by Mafindo – Platform kolaboratif anti-hoaks
- Hoax Analyzer Chrome Extension – Deteksi otomatis situs hoaks
- InVID & WeVerify – Verifikasi video dan gambar
Platform Edukasi Literasi Digital:
- Siberkreasi.id – Gerakan literasi digital nasional
- Digitalent Komdigi – Pelatihan mandiri dan Micro Skill
- Pandu Digital Indonesia – Program literasi digital terintegrasi
- NARCSP.org – National Anti-Rumor Campaign for Social Protection
Tools Verifikasi:
- Google Fact Check Explorer – Kumpulan fact-check global
- Snopes.com – Fact-checking veteran untuk konten internasional
- Bellingcat – Investigasi open-source journalism
Browser Extension Wajib:
- NewsGuard – Rating kredibilitas situs berita
- Ground News – Lihat bias media dan perspektif berbeda
- Fake News Debunker – Alert otomatis untuk situs hoaks
Baca Juga Krisis Global Pendidikan 2025: 272 Juta Anak & Harapan Pemerataan 2026
Peran Ekosistem dalam Memperkuat Literasi Digital
Literasi Digital Gen Z Cara Efektif Pencegah Hoaks 2025 tidak bisa berjalan sendiri—butuh kolaborasi ekosistem.
Peran Pemerintah:
Wamenkomdigi Nezar Patria mendorong kolaborasi model pentahelix: pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat, pelaku usaha, dan media harus berada dalam satu baris. Program Literasi Digital Nasional telah menjangkau lebih dari 30 juta warga dari 514 kabupaten/kota di 38 provinsi sejak 2021 hingga 2024.
Menkomdigi Meutya Hafid menekankan bahwa IMDI 2025 telah melampaui fungsi dasarnya sebagai alat evaluasi dan menjadi kompas kebijakan dalam memandu pemerintah pusat dan daerah untuk menyusun program berbasis data akurat.
Peran Institusi Pendidikan:
Akademisi UMY Prof. Dr. Adhianty Nurjanah dalam acara IGID Goes to Campus November 2025 menyoroti peran krusial generasi muda dengan data bahwa 221,5 juta orang (79,3% populasi) kini hidup dalam ekosistem digital. Literasi digital perlu diajarkan sejak sekolah, bukan hanya soal teknis, tapi juga etika dan verifikasi.
Peran Platform Digital:
Survei APJII 2025 menunjukkan bahwa dua dari tiga ISP di Indonesia telah memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan, dari chatbot, automasi pemasaran, hingga deteksi ancaman siber. Perusahaan teknologi wajib melengkapi layanan dengan fitur keamanan tambahan seperti verifikasi dua langkah dan sistem warning untuk konten mencurigakan.
Peran Komunitas:
Mafindo melalui program seperti Sekolah Kebangsaan dan Pelatihan Tular Nalar terus mengedukasi Gen Z untuk menjadi pemilih kritis dan cerdas dalam menyaring informasi. Kampanye interaktif di TikTok, Instagram, atau podcast lebih efektif menjangkau Gen Z.
Peran Gen Z Sendiri:
Konsultan Media Digital Rulli Nasrullah (Kang Arul) menekankan bahwa Gen Z sangat kreatif—kalau diarahkan, bisa jadi penjaga alami ekosistem digital yang sehat. Konten sederhana seperti kegiatan keluarga atau hobi justru dapat menarik jutaan penonton tanpa perlu vulgar atau prank yang merugikan.
Literasi Digital Gen Z Cara Efektif Pencegah Hoaks 2025
Data terkini menunjukkan paradoks: meski pengguna internet Indonesia mencapai 229,4 juta jiwa (80,66% populasi) dengan Gen Z mendominasi 25,54%, skor literasi digital justru anjlok ke 49,28. Dengan 1.923 konten hoaks teridentifikasi sepanjang 2024 dan 143 juta pengguna aktif media sosial, urgensi peningkatan literasi digital tidak bisa ditawar lagi.
Tujuh cara efektif yang telah dibahas—dari periksa fakta, verifikasi sumber, kenali karakteristik hoaks, reverse image search, metode SIFT, follow media terpercaya, hingga edukasi lingkaran sosial—merupakan langkah praktis yang bisa langsung diterapkan. Wamen Nezar mengajak menerapkan prinsip: stop, think, verify, and share.
Namun, literasi digital bukan tanggung jawab individu semata. Diperlukan kolaborasi ekosistem: pemerintah dengan program yang telah menjangkau 30 juta warga, institusi pendidikan dengan kurikulum terstruktur, platform digital dengan adopsi AI untuk keamanan, komunitas dengan kampanye kreatif, dan Gen Z sendiri sebagai agen perubahan.
Pertanyaan untuk Anda: Dari tujuh cara di atas, mana yang paling mudah Anda terapkan hari ini? Atau punya pengalaman berhasil mendeteksi hoaks yang bisa dibagikan di kolom komentar?
Mari bersama-sama ciptakan ekosistem digital Indonesia yang lebih sehat, kritis, dan beradab. Karena di tangan Gen Z, masa depan digital Indonesia dipertaruhkan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Sumber dan Referensi Terkini:
- Kementerian Komunikasi dan Digital – IMDI 2025 (Oktober 2025)
- Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) – Survei Penetrasi Internet 2025 (Agustus 2025)
- Kementerian Komunikasi dan Digital – Data Hoaks 2024 (1.923 konten teridentifikasi)
- Wamenkomdigi Nezar Patria – SindoNews Sharing Session (November 2025)
- Prof. Dr. Adhianty Nurjanah UMY – IGID Goes to Campus (November 2025)
- Direktur Informasi Publik Kemkomdigi Nursodik Gunarjo – IGID Goes to Campus (November 2025)
- Mafindo Bangka Belitung – Program Sekolah Kebangsaan (Oktober 2024)
- Konsultan Media Digital Rulli Nasrullah – IGID Goes to Campus (November 2025)
- NARCSP.org – National Anti-Rumor Campaign for Social Protection

