Gen Z tinggalkan hustle culture pilih wellness adalah pergeseran nyata yang terjadi di Indonesia dan seluruh dunia. Menurut laporan Cheil Indonesia (2025), 75 dari 100 responden Gen Z Indonesia menjadikan kesehatan sebagai prioritas utama tujuan hidup mereka. Generasi ini memilih keseimbangan mental dan fisik daripada mengejar produktivitas tanpa henti. Panduan ini membahas mengapa tren ini muncul, dampaknya bagi Gen Z Indonesia, dan langkah konkret untuk mengadopsinya.
Ringkasan Singkat: Gen Z Indonesia secara aktif meninggalkan hustle culture — budaya kerja keras tanpa henti — dan beralih ke gaya hidup wellness yang memprioritaskan kesehatan mental, tidur berkualitas, dan batasan digital yang sehat. Data dari Cheil Indonesia (2025) menunjukkan 75% Gen Z menjadikan kesehatan sebagai tujuan hidup utama, sementara Snapcart (2024) mengidentifikasi tekanan media sosial sebagai pemicu stres terbesar generasi ini.
Apa Itu Hustle Culture dan Mengapa Gen Z Mulai Meninggalkannya?

Gen Z tinggalkan hustle culture pilih wellness dimulai dari pemahaman tentang apa sebenarnya hustle culture itu. Hustle culture adalah mentalitas yang menempatkan kesibukan, produktivitas, dan pencapaian karier di atas segalanya — termasuk kesehatan fisik dan mental. Narasi ini mendominasi media sosial bertahun-tahun, mendorong anak muda untuk merasa bersalah jika tidak “produktif” setiap saat.
Menurut Snapcart Indonesia (2024), media sosial yang mempromosikan hustle culture dan kesuksesan di usia muda membuat banyak Gen Z merasa stres dan takut gagal. Healing kemudian menjadi mekanisme coping yang paling umum sebagai strategi emosional untuk meredakan tekanan tersebut.
Pergeseran ini terlihat nyata dalam diskusi komunitas online dan offline di Indonesia. Gen Z tidak lagi membanggakan berapa jam mereka bekerja. Sebaliknya, mereka mulai membanggakan kualitas tidur yang baik, rutinitas olahraga yang konsisten, dan kemampuan menetapkan batasan yang sehat.
Poin Kunci:
- Hustle culture menempatkan produktivitas di atas kesehatan mental dan fisik.
- Media sosial memperkuat tekanan ini, terutama di TikTok dan Instagram.
- Menurut Snapcart Indonesia (2024), tekanan sosial media adalah pemicu utama stres pada Gen Z Indonesia.
- Gen Z kini mulai menolak narasi ini dan mencari alternatif yang lebih berkelanjutan.
Mengapa Tren Gen Z Tinggalkan Hustle Culture Pilih Wellness Makin Relevan di 2026?

Tren ini semakin relevan karena beberapa faktor yang saling memperkuat. Pertama, menurut GlobalData (2025), Gen Z adalah kelompok generasi terbesar di Indonesia, menyumbang hampir 28% dari total 281 juta penduduk. Pilihan hidup mereka berdampak besar pada budaya dan tren sosial nasional.
Menurut laporan “Gen Z IRL Indonesia” oleh Cheil Indonesia (2025) yang didasarkan pada survei dan focus group dengan 100 partisipan, 75 dari 100 responden Gen Z Indonesia menjadikan kesehatan sebagai bagian dari tujuan hidup mereka — mencakup olahraga, pola makan mindful, dan kesejahteraan mental.
Kedua, generasi ini menyaksikan langsung dampak negatif hustle culture pada generasi Milenial sebelum mereka — burnout, masalah kesehatan kronis, dan ketidakpuasan hidup. Gen Z belajar dari pengalaman tersebut dan memilih jalan berbeda.
Poin Kunci:
- Gen Z menyumbang hampir 28% populasi Indonesia (GlobalData, 2025).
- Menurut Cheil Indonesia (2025), 75% Gen Z Indonesia memprioritaskan kesehatan sebagai tujuan hidup utama.
- Tren ini diperkuat oleh meningkatnya kesadaran kesehatan mental pasca-pandemi.
- Wellness bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar Gen Z Indonesia modern.
Bagaimana Gen Z Indonesia Mengadopsi Gaya Hidup Wellness?

Menurut Cheil Indonesia (2025), 68 dari 100 Gen Z Indonesia menemukan ketenangan dengan menonton ulang serial atau film favorit sebagai ritual reset emosional. Selain itu, 73% responden memprioritaskan kebiasaan sehat — termasuk tidur berkualitas, pola makan seimbang, dan olahraga kecil yang konsisten — sebagai bentuk ekspresi diri dan pertumbuhan pribadi.
Di 2026, Gen Z memilih rutinitas yang lebih tenang, jam kerja yang wajar, dan ketenangan mental di atas pencapaian yang terus-menerus. Tidur berkualitas, kesehatan mental, dan batasan yang sehat kini berada di atas promosi atau prestise profesional dalam hierarki prioritas mereka.
Beberapa bentuk adopsi wellness yang paling umum di kalangan Gen Z Indonesia:
- Tidur berkualitas — menjadikan tidur 7–9 jam sebagai prioritas, bukan kemewahan.
- Olahraga kecil yang konsisten — jalan kaki, yoga ringan, atau stretching harian.
- Journaling digital — refleksi harian untuk memproses emosi dan mengelola stres.
- Batas layar (screen limits) — membatasi penggunaan media sosial secara aktif.
- Terapi virtual — mengakses konseling psikologis lewat aplikasi.
Poin Kunci:
- Menurut Cheil Indonesia (2025), 68% Gen Z Indonesia menggunakan ritual reset untuk mengelola stres.
- Tren “quiet life” — memilih rutinitas tenang dan jam kerja wajar — meningkat signifikan di 2026.
- Aplikasi meditasi, journaling digital, dan terapi virtual makin banyak digunakan.
- Gen Z memilih olahraga kecil yang konsisten daripada program intensif yang tidak berkelanjutan.
Apa Saja Manfaat Nyata dari Meninggalkan Hustle Culture?

Secara mental, meninggalkan hustle culture mengurangi risiko burnout kronis — kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang diakui WHO sebagai fenomena pekerjaan dalam ICD-11 (WHO, 2019). Secara fisik, tidur cukup, pola makan seimbang, dan olahraga teratur berkontribusi pada kesehatan jangka panjang yang tidak bisa digantikan oleh produktivitas semata.
Dari sisi sosial, menurut temuan Publicis Groupe Indonesia (2025), Gen Z Indonesia sangat peka terhadap keaslian dan cepat mengenali perilaku performatif. Mereka memilih koneksi yang bermakna atas jaringan yang luas namun dangkal.
Dari sisi finansial, investasi dalam wellness terbukti lebih efisien jangka panjang. Biaya perawatan burnout — baik medis maupun produktivitas yang hilang — jauh lebih besar dibandingkan biaya pencegahan melalui gaya hidup sehat.
Poin Kunci:
- WHO mengakui burnout sebagai fenomena pekerjaan dalam ICD-11 (WHO, 2019).
- Menurut Publicis Groupe Indonesia (2025), Gen Z Indonesia memprioritaskan koneksi autentik.
- Wellness mendukung performa jangka panjang yang lebih berkelanjutan dibanding hustle culture.
- Tidur berkualitas, nutrisi seimbang, dan olahraga konsisten menjadi fondasi kesuksesan baru.
Bagaimana Cara Memulai Transisi dari Hustle Culture ke Wellness?

Transisi dari hustle culture ke wellness tidak harus drastis. Berikut lima langkah konkret yang dapat langsung dipraktikkan:
Langkah 1: Audit Ulang Definisi Sukses Anda Tanyakan pada diri sendiri: apakah pencapaian ini benar-benar membuat saya bahagia, atau hanya terlihat impresif di mata orang lain? Mendefinisikan ulang sukses secara personal adalah fondasi perubahan yang berkelanjutan.
Langkah 2: Bangun Rutinitas Minimal yang Konsisten Mulai dari satu kebiasaan kecil: 10 menit journaling, jalan kaki 20 menit, atau tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari. Konsistensi lebih berharga daripada intensitas.
Langkah 3: Tetapkan Batasan Digital yang Jelas Matikan notifikasi kerja di luar jam kerja. Menurut kawansejati.org (2025), kelelahan digital akibat screen time tinggi adalah salah satu tantangan terbesar gaya hidup urban Indonesia saat ini.
Langkah 4: Investasikan Waktu untuk Kesehatan Mental Tidak harus mahal. Aplikasi meditasi gratis, komunitas support online, atau berbicara jujur dengan teman dekat sudah merupakan langkah nyata menuju wellness.
Langkah 5: Cari Komunitas yang Mendukung Bergabunglah dengan komunitas yang menormalisasi batasan sehat dan istirahat — bukan yang merayakan kelelahan sebagai tanda kesuksesan. Lingkungan sosial sangat memengaruhi keberhasilan perubahan gaya hidup.
Poin Kunci:
- Redefine sukses secara personal, bukan berdasarkan standar eksternal media sosial.
- Konsistensi dalam kebiasaan kecil lebih efektif daripada program intensif yang tidak berkelanjutan.
- Batasan digital adalah komponen penting wellness di era teknologi tinggi.
- Komunitas yang suportif mempercepat perubahan gaya hidup yang positif.
Baca Juga Cara Terbukti Tingkatkan Literasi Sosial 2026
Frequently Asked Questions
Apakah meninggalkan hustle culture berarti menjadi tidak ambisius?
Tidak. Menurut Cheil Indonesia (2025), 67% Gen Z Indonesia mengagumi individu yang hidup berani, setia pada passion, dan mendukung prinsip mereka dengan tindakan nyata. Ambisi yang sehat berlandaskan keberlanjutan — bukan pengorbanan kesehatan demi pengakuan eksternal. Meninggalkan hustle culture berarti memilih ambisi yang cerdas, bukan menyerah pada ambisi itu sendiri.
Apakah tren wellness Gen Z ini hanya untuk kalangan urban Indonesia?
Tren ini memang pertama kali muncul di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Namun menurut kawansejati.org (2025), wellness culture semakin mengakar di masyarakat urban dan perlahan menyebar ke kota-kota menengah seiring meningkatnya penetrasi internet dan konten wellness di media sosial.
Bagaimana hustle culture memengaruhi kesehatan mental Gen Z Indonesia?
Menurut Snapcart Indonesia (2024), banyak Gen Z merasa stres dan takut gagal akibat tekanan sosial media yang mempromosikan kesuksesan instan. Healing menjadi strategi coping emosional yang paling umum digunakan untuk mengatasi dampak tekanan ini. Dalam jangka panjang, paparan hustle culture yang terus-menerus berisiko memicu burnout kronis yang diakui WHO sebagai fenomena pekerjaan.
Apakah perubahan ini berdampak pada pola belanja Gen Z?
Ya. Menurut Snapcart Indonesia (2024), Gen Z semakin bersedia mengalokasikan anggaran untuk produk dan pengalaman wellness — skincare, keanggotaan gym, sumber daya kesehatan mental, dan perjalanan — yang mereka anggap sebagai kebutuhan esensial, bukan kemewahan. Ini mencerminkan pergeseran nilai yang fundamental, bukan sekadar tren konsumsi.
Apa perbedaan hustle culture dan productive mindset yang sehat?
Hustle culture mendorong produktivitas tanpa batas dengan mengorbankan kesehatan dan istirahat. Productive mindset yang sehat mendorong performa optimal dalam batas yang berkelanjutan — termasuk waktu istirahat yang cukup, batasan yang jelas, dan penilaian diri yang tidak bergantung pada output semata.
Kesimpulan
Gen Z tinggalkan hustle culture pilih wellness bukan sekadar tren sementara — ini adalah pergeseran budaya yang fundamental dan terukur. Didukung oleh data dari Cheil Indonesia, Snapcart, Publicis Groupe Indonesia, dan GlobalData, jelas bahwa generasi terbesar di Indonesia ini sedang mendefinisikan ulang arti sukses.
Wellness, batasan sehat, dan keseimbangan hidup bukan lagi kelemahan — melainkan strategi hidup yang cerdas dan bermakna. Mulailah dari langkah kecil, jadikan kesehatan sebagai fondasi, dan bergabunglah dengan pergerakan ini. Karena pada akhirnya, keberlanjutan adalah bentuk ambisi tertinggi.
Referensi
- Cheil Indonesia. (2025). Gen Z IRL Indonesia. Via Branding in Asia.
- Snapcart Indonesia. (2024). The Healing Phenomenon Among Gen Z in Indonesia.
- Publicis Groupe Indonesia. (2025). Gen Z IRL Indonesia. Via MARKETECH APAC.
- GlobalData. (2025). Via Just Food.
- kawansejati.org. (2025). Lifestyle Indonesia 2025.
- WHO. (2019). Burn-out an “Occupational Phenomenon”: International Classification of Diseases.


