Berdasarkan data Perpustakaan Nasional RI tahun 2024, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia meningkat menjadi 73,52, naik dari 64,40 pada 2022. Meski angka ini menunjukkan tren positif, kenyataannya posisi Indonesia di peringkat literasi global masih memprihatinkan.
Apakah Anda merasa kesulitan memahami informasi yang kompleks? Merasa tertinggal dalam diskusi sosial yang membutuhkan pemahaman mendalam? Atau bahkan bingung bagaimana mengajarkan anak-anak pentingnya membaca di era digital? Anda tidak sendirian.
Indonesia menempati urutan ke 72 dari 78 negara berkaitan dengan tingkat literasi menurut survei PISA yang dirilis OECD, menempatkan Indonesia di 10 negara terbawah dengan tingkat literasi rendah. Artikel ini akan membahas cara-cara terbukti untuk meningkatkan literasi sosial berdasarkan data resmi dan program pemerintah yang terverifikasi.
Dalam panduan komprehensif ini, Anda akan mempelajari strategi konkret yang telah diterapkan pemerintah dan lembaga terkait, memahami tantangan literasi di Indonesia, serta mendapatkan langkah-langkah praktis untuk meningkatkan kemampuan literasi Anda dan keluarga di tahun 2026.
Memahami Kondisi Literasi Indonesia di 2026

Tingkat Gemar Membaca (TGM) nasional tahun 2024 mencapai 72,44, masuk dalam kategori sedang dan melampaui target 71,3 serta capaian tahun lalu sebesar 66,7. Data ini diperoleh dari survei terhadap 174.226 responden berusia 10-69 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Namun di balik pencapaian tersebut, masih terdapat kesenjangan yang perlu dipahami. Tingkat literasi di Indonesia mencapai 96,53%, namun posisi Indonesia tak lebih baik dari Brunei serta Filipina di kawasan Asia Tenggara.
Mengapa angka literasi penting?
Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis. Literasi sosial mencakup kemampuan memahami informasi kompleks, berpikir kritis, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan ini sangat krusial untuk:
- Berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan politik
- Meningkatkan peluang ekonomi dan karier
- Memahami dan mengevaluasi informasi di era digital
- Melindungi diri dari manipulasi informasi dan hoaks
Kesenjangan yang masih ada:
Indeks Alibaca menunjukkan rata-rata angka indeks nasional termasuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu 37,32, dengan Dimensi Akses sebesar 23,09 dan Dimensi Budaya sebesar 28,50.
Langkah konkret yang bisa dilakukan:
- Mulai dengan membaca 15 menit setiap hari secara konsisten
- Pilih bacaan yang sesuai minat untuk membangun kebiasaan
- Manfaatkan perpustakaan digital dan aplikasi e-book gratis
- Bergabung dengan komunitas baca untuk motivasi berkelanjutan
- Diskusikan bacaan dengan keluarga atau teman untuk pemahaman lebih dalam
Program Pemerintah untuk Peningkatan Literasi 2025-2026

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program strategis untuk meningkatkan literasi masyarakat. Kemenko PMK menyusun tiga program utama: Program Literasi Keluarga, Program Literasi Satuan Pendidikan, dan Program Literasi Masyarakat melalui peningkatan layanan perpustakaan secara nasional.
Program Buku Bacaan Bermutu
Fokus sasaran sekolah yang akan dikirim buku bacaan bermutu di tahun 2025 adalah SD kategori 1 dan 2 sejumlah 22.792 SD serta satuan Pendidikan SMP kategori 1 sejumlah 10.591 SMP. Program Merdeka Belajar Ke-23 ini merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah menyediakan bahan bacaan berkualitas.
Pesta Literasi Indonesia 2025
Badan Bahasa meluncurkan 3.270 judul buku terjemahan cerita anak pada Pesta Literasi Indonesia 2025 di Kebun Raya Bogor. Program ini dirancang untuk menjangkau berbagai lapisan pembaca, mulai dari tingkat pemula hingga lanjutan, dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing.
Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS)
Perpusnas memperkenalkan kebijakan TPBIS dan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengembangan perpustakaan desa guna meningkatkan akses literasi di daerah terpencil.
Bagaimana memanfaatkan program ini:
- Cek perpustakaan sekolah atau daerah Anda apakah mendapat bantuan buku
- Kunjungi perpustakaan yang telah ditransformasi dengan TPBIS
- Manfaatkan program penerjemahan buku untuk anak-anak
- Ikuti kegiatan literasi yang diselenggarakan komunitas lokal
- Ajukan usulan perpustakaan desa jika belum tersedia di wilayah Anda
Mengatasi Tantangan Utama Literasi di Indonesia

1. Akses Terbatas ke Sumber Bacaan
Anak-anak di luar Jawa, terutama di daerah pedesaan, memiliki akses yang lebih terbatas terhadap buku, dengan ketersediaan yang sangat terbatas dan perpustakaan desa yang belum sepenuhnya tersedia.
Solusi praktis:
- Manfaatkan perpustakaan digital seperti iPusnas (aplikasi Perpustakaan Nasional)
- Bergabung dengan program pojok baca di komunitas atau masjid
- Ikuti program bookmobile atau perpustakaan keliling jika ada di daerah Anda
- Manfaatkan e-book gratis dari berbagai platform legal
- Bentuk komunitas berbagi buku di lingkungan sekitar
2. Rendahnya Minat Baca Sejak Dini
Data BPS 2024 menunjukkan persentase anak yang dibacakan buku cerita dan belajar bersama orang tua hanya sekitar 17,21% dan 11,12%. Angka ini sangat rendah dan berdampak pada literasi jangka panjang.
Langkah untuk orang tua:
- Bacakan dongeng minimal 10 menit setiap malam sebelum tidur
- Jadikan membaca sebagai aktivitas keluarga yang menyenangkan
- Buat perpustakaan mini di rumah dengan buku sesuai usia anak
- Beri contoh dengan membaca di depan anak
- Diskusikan cerita yang dibaca untuk melatih pemahaman
3. Dominasi Gadget Tanpa Literasi Digital
Orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari, namun minat baca buku sangat rendah. Paradoks ini menunjukkan perlunya literasi digital yang seimbang.
Strategi mengubah kebiasaan:
- Alokasikan 1 jam dari waktu gadget untuk membaca e-book
- Ikuti akun bookstagram atau booktok untuk motivasi membaca
- Gunakan aplikasi pembaca berita kredibel daripada media sosial
- Atur screen time dan gantikan dengan waktu membaca fisik
- Manfaatkan podcast atau audiobook saat commuting
Insight Penting: Literasi digital bukan tentang menghindari teknologi, tetapi menggunakannya untuk mengakses konten berkualitas dan melatih kemampuan berpikir kritis terhadap informasi online.
4. Kesenjangan Kualitas Pendidikan
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat menunjukkan tujuh unsur termasuk pemerataan layanan perpustakaan dan ketercukupan koleksi yang masih timpang.
Inisiatif yang bisa diikuti:
- Dukung program literasi di sekolah lokal sebagai relawan
- Donasi buku berkualitas ke perpustakaan sekolah
- Ikuti pelatihan literasi yang diselenggarakan pemerintah daerah
- Manfaatkan sumber daya online gratis untuk pembelajaran mandiri
- Bentuk kelompok belajar atau diskusi buku di komunitas
Literasi Keuangan sebagai Bagian Literasi Sosial

Literasi sosial tidak lepas dari literasi keuangan. Indeks literasi keuangan Indonesia pada 2025 mencapai 66,46%, naik dari 65,43% di 2024, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan oleh OJK dan BPS.
Kelompok dengan literasi keuangan tertinggi:
Kelompok usia 26-35 tahun, 18-25 tahun dan 36-50 tahun memiliki indeks literasi keuangan tertinggi, yakni masing-masing sebesar 74%, 73,22% dan 72%.
Cara meningkatkan literasi keuangan:
- Pelajari konsep dasar pengelolaan keuangan pribadi
- Manfaatkan program edukasi keuangan dari OJK
- Ikuti webinar atau workshop literasi keuangan gratis
- Baca buku atau artikel tentang perencanaan finansial
- Praktikkan budgeting dan pencatatan pengeluaran
Mengapa literasi keuangan penting dalam konteks sosial?
Kemampuan mengelola keuangan mempengaruhi keputusan hidup, dari pendidikan anak hingga partisipasi dalam ekonomi. Dengan literasi keuangan yang baik, masyarakat lebih terlindungi dari penipuan, dapat merencanakan masa depan lebih baik, dan berkontribusi pada stabilitas ekonomi keluarga dan komunitas.
Gerakan Literasi Desa dan Komunitas Lokal

Gerakan Literasi Desa menjadi kunci untuk memperkuat literasi masyarakat, melibatkan 514 kabupaten/kota dan lebih dari 174 ribu responden.
Komponen Gerakan Literasi yang efektif:
- Perpustakaan Desa yang Aktif
- Koleksi buku yang relevan dengan kebutuhan masyarakat
- Jam operasional yang fleksibel
- Program literasi rutin seperti story telling atau diskusi buku
- Fasilitas yang ramah anak dan lansia
- Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
- Dikelola oleh komunitas lokal
- Fokus pada kebutuhan literasi spesifik daerah
- Menyelenggarakan kegiatan literasi kreatif
- Menjadi pusat pembelajaran informal
- Komunitas Literasi Digital
- Bookstagram dan booktok untuk generasi muda
- Klub buku online yang diskusi via video call
- Review buku di blog atau podcast
- Sharing bacaan melalui grup WhatsApp atau Telegram
Langkah membangun komunitas literasi:
- Mulai dari kelompok kecil 5-10 orang dengan minat serupa
- Tentukan jadwal rutin (misalnya setiap 2 minggu)
- Pilih buku yang ringan dan menarik di awal
- Buat diskusi interaktif, bukan sekadar presentasi
- Dokumentasikan kegiatan untuk menarik anggota baru
- Kolaborasi dengan perpustakaan atau sekolah setempat
Strategi Literasi untuk Berbagai Kelompok Usia

Anak Usia Dini (0-6 tahun)
UNESCO merekomendasikan minimal tiga buku per anak per tahun, bukan hanya mengukur kuantitas tetapi juga kualitas yang mencakup relevansi dengan minat dan kemampuan baca anak.
Praktik terbaik:
- Bacakan cerita bergambar setiap hari
- Pilih buku interaktif dengan tekstur dan warna menarik
- Buat kegiatan membaca menjadi momen bonding
- Kunjungi perpustakaan atau toko buku secara rutin
- Libatkan anak dalam memilih buku sendiri
Anak Sekolah (7-18 tahun)
Program Merdeka Belajar telah menyasar sekolah dengan literasi rendah untuk distribusi buku berkualitas. Orang tua dan guru dapat:
- Sediakan buku di luar kurikulum sesuai minat anak
- Buat kegiatan book club di sekolah atau rumah
- Manfaatkan teknologi dengan e-book dan audiobook
- Hubungkan bacaan dengan kehidupan nyata
- Beri kebebasan memilih genre yang disukai
Dewasa (19-60 tahun)
Berdasarkan klasifikasi desa, indeks literasi wilayah perkotaan sebesar 70,89%, lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan yakni 59,60%.
Strategi untuk dewasa:
- Mulai dengan artikel atau buku pendek
- Pilih topik yang relevan dengan pekerjaan atau hobi
- Bergabung dengan komunitas baca profesional
- Manfaatkan waktu commuting untuk membaca
- Set target realistis (misalnya 1 buku per bulan)
Lansia (60+ tahun)
Literasi pada lansia sering terabaikan, padahal sangat penting untuk menjaga kognisi:
- Pilih buku dengan font besar dan bahasa sederhana
- Fokus pada tema nostalgia atau sejarah
- Manfaatkan audiobook jika ada masalah penglihatan
- Adakan sesi membaca bersama di posyandu lansia
- Libatkan dalam program literasi keluarga
Peran Teknologi dalam Meningkatkan Literasi Sosial 2026

Literasi digital perlu didorong seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, tidak hanya untuk siswa tetapi juga para guru pendidik.
Platform dan Aplikasi Literasi Terpercaya:
- iPusnas (Indonesia Pustaka)
- Aplikasi perpustakaan digital resmi Perpusnas
- Gratis dengan koleksi ribuan buku
- Bisa diakses 24/7 dari mana saja
- Tersedia buku fiksi, non-fiksi, dan jurnal
- Literasi Numerik dan Media
- Kemampuan memahami data dan statistik
- Keterampilan mengevaluasi sumber informasi online
- Pengecekan fakta dan verifikasi berita
- Pemahaman algoritma media sosial
- Komunitas Digital
- Goodreads Indonesia untuk tracking bacaan
- Grup diskusi buku di Facebook atau Telegram
- Channel YouTube edukasi berkualitas
- Podcast literasi dan pendidikan
Tips menggunakan teknologi untuk literasi:
- Filter konten media sosial, prioritaskan akun edukatif
- Gunakan aplikasi news aggregator yang kredibel
- Subscribe newsletter dari media terpercaya
- Manfaatkan platform e-learning gratis
- Latih critical thinking terhadap informasi viral
Mengukur dan Mempertahankan Progres Literasi
Indikator Pribadi yang Bisa Diukur:
- Jumlah buku/artikel yang diselesaikan per bulan
- Waktu yang dialokasikan untuk membaca setiap hari
- Kemampuan meringkas dan menjelaskan isi bacaan
- Partisipasi dalam diskusi literasi
- Penerapan pengetahuan dari bacaan ke kehidupan nyata
Cara Mempertahankan Kebiasaan Membaca:
- Set waktu spesifik untuk membaca (misalnya setelah sarapan)
- Bawa buku atau e-reader kemana-mana
- Join reading challenge tahunan
- Bagikan review buku di media sosial
- Reward diri setelah menyelesaikan target
Mengatasi Reading Slump:
- Ganti genre yang biasa dibaca
- Pilih buku lebih ringan sementara
- Baca buku favorit lama untuk membangun momentum
- Coba format berbeda (audiobook, komik, grafis novel)
- Istirahat sejenak tanpa merasa bersalah
Tips dari Program Perpusnas: Konsistensi lebih penting daripada kuantitas. Membaca 15 menit setiap hari lebih efektif daripada 3 jam sekali seminggu.
Kolaborasi Ekosistem Literasi: Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat
Sinergi pemerintah, penerbit, dan komunitas literasi diharapkan dapat memperkaya bahan bacaan dan menjadi fondasi ekosistem literasi berkelanjutan.
Peran Setiap Stakeholder:
Pemerintah:
- Menyediakan infrastruktur perpustakaan
- Mencetak dan mendistribusikan buku berkualitas
- Membuat kebijakan pro-literasi
- Monitoring dan evaluasi program literasi nasional
Swasta:
- CSR untuk program literasi komunitas
- Donasi buku dan pembangunan perpustakaan
- Platform digital untuk akses bacaan
- Sponsorship event dan kompetisi literasi
Masyarakat:
- Partisipasi aktif dalam program literasi
- Membentuk dan mengelola komunitas baca
- Volunteerism sebagai tutor atau fasilitator
- Menjaga budaya baca dalam keluarga
Kolaborasi yang Sudah Berjalan:
Program Pesta Literasi Indonesia 2025 merupakan contoh kolaborasi antara Badan Bahasa (pemerintah), Gramedia (swasta), dan komunitas Kayuh Literasi. Model kolaborasi ini efektif karena menggabungkan sumber daya, keahlian, dan jangkauan masing-masing pihak.
Baca Juga UGC Campaign 2026: 7 Strategi Social Awareness
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Cara Terbukti Tingkatkan Literasi Sosial 2026
1. Apa itu literasi sosial dan mengapa penting di 2026?
Literasi sosial adalah kemampuan memahami, menganalisis, dan menerapkan informasi dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Di era digital 2026, literasi sosial krusial untuk mengevaluasi informasi, berpartisipasi dalam diskusi publik, dan membuat keputusan yang informed. Berdasarkan data Perpusnas, peningkatan literasi berdampak langsung pada kualitas hidup, peluang ekonomi, dan partisipasi demokratis.
2. Bagaimana cara memulai meningkatkan literasi jika selama ini jarang membaca?
Mulai dengan langkah kecil: bacalah 10-15 menit setiap hari tentang topik yang Anda sukai. Manfaatkan aplikasi iPusnas untuk akses buku digital gratis, atau kunjungi perpustakaan terdekat. Pilih buku ringan seperti komik, cerpen, atau artikel pendek. Yang terpenting adalah konsistensi, bukan kuantitas. Setelah terbiasa, tingkatkan durasi dan kompleksitas bacaan secara bertahap.
3. Apakah ada program pemerintah yang bisa saya manfaatkan untuk meningkatkan literasi?
Ya, pemerintah menyediakan berbagai program: (1) Perpustakaan digital iPusnas dengan ribuan buku gratis, (2) Program TPBIS di perpustakaan daerah, (3) Gerakan Literasi Desa di 514 kabupaten/kota, (4) Distribusi buku bermutu ke sekolah, dan (5) Pesta Literasi Indonesia dengan 3.270 buku terjemahan. Cek perpustakaan daerah atau dinas pendidikan setempat untuk info program lokal.
4. Bagaimana cara meningkatkan literasi anak di tengah dominasi gadget?
Integrasikan literasi dengan teknologi: gunakan e-book dan aplikasi cerita interaktif, ikuti akun bookstagram untuk anak, dan batasi screen time dengan aturan jelas. Data BPS menunjukkan hanya 17% anak yang dibacakan dongeng orang tua. Jadikan membaca aktivitas keluarga yang menyenangkan dengan membacakan cerita sebelum tidur dan diskusikan bersama. Beri contoh dengan membaca di depan anak.
5. Berapa target realistis buku yang harus dibaca per tahun?
Tidak ada patokan baku, yang penting konsistensi. Untuk pemula, target 6-12 buku per tahun (1 buku per 1-2 bulan) sudah baik. UNESCO merekomendasikan minimal 3 buku per anak per tahun. Fokus pada kualitas pemahaman, bukan sekadar kuantitas. Sesuaikan dengan kesibukan dan kemampuan Anda, lalu tingkatkan bertahap.
6. Apa perbedaan literasi tradisional dan literasi digital?
Literasi tradisional fokus pada kemampuan baca-tulis teks cetak, sedangkan literasi digital mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari media digital. Di 2026, literasi digital sangat penting karena mencakup critical thinking terhadap informasi online, kemampuan fact-checking, pemahaman algoritma, dan keamanan digital. Keduanya saling melengkapi dan sama-sama esensial.
7. Bagaimana cara mengukur peningkatan literasi pribadi?
Ukur dengan indikator konkret: (1) jumlah buku/artikel yang diselesaikan per bulan, (2) waktu membaca harian, (3) kemampuan meringkas bacaan dengan kata-kata sendiri, (4) frekuensi diskusi literasi dengan orang lain, dan (5) penerapan pengetahuan dari bacaan ke kehidupan nyata. Buat jurnal membaca sederhana untuk tracking progres Anda.
Action Plan Literasi Sosial 2026
Meningkatkan literasi sosial di Indonesia membutuhkan komitmen bersama dari berbagai pihak. Data menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami peningkatan signifikan dengan IPLM mencapai 73,52 pada 2024, namun masih banyak ruang untuk perbaikan terutama di dimensi akses dan budaya baca.
Langkah-Langkah Konkret yang Bisa Anda Mulai Hari Ini:
- Mulai Kebiasaan Membaca Harian – Alokasikan minimal 15 menit setiap hari untuk membaca, pilih topik yang Anda minati
- Manfaatkan Program Pemerintah – Download aplikasi iPusnas, kunjungi perpustakaan yang telah ditransformasi dengan TPBIS
- Libatkan Keluarga – Bacakan dongeng untuk anak, diskusikan bacaan bersama keluarga, bentuk budaya literasi di rumah
- Bergabung dengan Komunitas – Ikuti komunitas baca lokal, join reading challenge online, bagikan review buku di media sosial
- Gunakan Teknologi Bijak – Alokasikan waktu gadget untuk e-book, ikuti akun edukatif, latih critical thinking terhadap informasi online
Mari Bersama Membangun Indonesia yang Literat!
Peningkatan literasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi tanggung jawab kita bersama. Setiap buku yang dibaca, setiap pengetahuan yang dibagikan, setiap diskusi yang dilakukan adalah kontribusi untuk Indonesia yang lebih literat.
Bagikan pengalaman literasi Anda di kolom komentar! Apa buku terakhir yang Anda baca? Tantangan apa yang Anda hadapi dalam meningkatkan literasi? Mari saling berbagi dan belajar bersama.
Artikel ini disusun berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), Perpustakaan Nasional RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen. Semua informasi telah diverifikasi dari sumber terpercaya dan data terkini tahun 2024-2026.
Sumber Referensi:
- Badan Pusat Statistik – Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 2024
- Perpustakaan Nasional RI – IPLM 2024 dan TGM Nasional
- Otoritas Jasa Keuangan & BPS – SNLIK 2025
- Kementerian Koordinator PMK – Program Literasi Nasional
- Badan Bahasa Kemendikdasmen – Risalah Kebijakan Literasi & Pesta Literasi 2025
- GoodStats – Data Literasi Indonesia dan ASEAN
- TIMES Indonesia – Refleksi Literasi Indonesia 2025
- CNBC Indonesia – Kondisi Literasi Anak Indonesia

